Featured Video

Kamis, 08 September 2011

Dua Sosok Di Balik Sail Indonesia

Pantai di Belitung
Dua Sosok Di Balik Sail Indonesia - Sail Banda dan Sail Bunaken serta Sail Wakatobi- Belitong 2011 menjadi perhelatan besar yang kerap diikuti puluhan kapal dari berbagai belahan dunia. Kegiatan yang menelan biaya bermiliar-miliar rupiah itu, ditujukan untuk memperkenalkan Banda dan Bunaken ke masyarakat dunia.Di balik kemegahan dan kemeriahan hajatan besar itu, ada dua lelaki, yang menggagasnya. Mereka adalah Son Diamar dan Raymond Lesaian,.yang merintis rally sail Indonesia sejak tahun 2001.
Kedua lelaki Indonesia itu ingin perairan Indonesia menjadi jalur terbaik untuk kapal layar atau yacht. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara pelabuhan dan negara wisata bahari.Son Diamar, yang dilahirkan di Jakarta, 12 Mei 1953, pemegang gelar PhD, lulusan Public Policy, Graduate School of Public and International Affairs, University of Pittsburgh, USA, tahun 1991. Ia juga pemegang Certificate Investment Analysis dari Harvard. Pengalamannya di bidang maritim, membuatnya menjadi salah satu ahli maritim dunia. Ia juga pernah menjadi Ketua Tim Perancang Perpres No. 81 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut dan Inpres No. 5 Tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.Saat ini Son Diamar memegang jabatan sebagai pengajar pada Institut Pemerintah Dalam Negeri. Kementerian Dalam Negeri. Ia juga termasuk dalam tim grand design Pemerintahan Daerah Kementerian Dalam Negeri, pengajar di ITB, IPB, dan Diklatpim I II Lembaga Administrasi Negara. Serta, ia juga menjadi Ketua Tim Studi Pembangunan Ekonomi berbasis sumber daya alam Bank Dunia.

Sedangkan Raymond Timotius Lesmana, lulusan sekolah seni di Los Angeles yang jatuh cinta dengan bahari Indonesia. Pria itu dilahirkan di Bandung 15 Oktoer 1954, yang mengenyam pendidikan terakhir di Glass Art Class ata Touch of Glass - Los Angeles 1983. Ja sekarang menjadi Executive Director Sail Indonesia.

Lelaki-lelaki itu, bersungguh-sungguh mencari peminat kapal layar internasional, agar melintas dan singgah di perairan Indonesia Timur. Kupang pun dijadikan sebagai entry point sebelum kapal layar masuk ke Wilayah lain di Indonesia.Perjuangan dimulai ketika Son Diamar mengajak Raymond Lesmana bergabung di Dewan Maritim Indonesia di tahun 2000. Mereka juga melakukan survei di Indonesia Timur, seperti Kupang, Rote, Ndao, Lembata, Alor, dan Flores.

Di setiap daerah yang disurveinya untuk dijadikan titik labuh peserta, ia harus berjam-jam di laut. Ia juga berkoordinasi dengan kepala daerah setempat. Untuk menyiapkan 5 titik labuh, Raymond mesti berlayar ke sana ke mari, disambung dengan perjalanan darat yang melelahkan selama sebulan. Ia beruntung, karena keluarga mendukung sepenuhnya.

Peminat Meningkat

Sejak digulirkan tahun 2001, rally kapal layar semakin banyak peminatnya. Bahkan, di tahun 2003, acara itu menjadi acara kapal layar terbesar di Asia dan menjadi rangkaian rally kapal layar dunia, meski tanpa dukungan pemerintah. Demi kesuksesan acara, penggagas kerap merogoh uang dari koceknya sendiri. Seperti promosi dan merekrut peserta rally kapal layar di Indonesia.Yayasan yang dirintis pertama kali untuk menyelenggarakan pelayaran Indonesia itu, Yayasan Cinta Bahari Indonesia, yang dewan pendirinya diketuai oleh Son Diamar. Yayasan itu beranggotakan Jimmy Sardjono, Fernanto Djais, Aviliani flan Aji Sularso. Sedangkan yang bertindak sebagai dewan pembina, yakni Abdul Alim Salam, Urip Santoso dan Anton Leonard. Dewan Pengurus dipegang Raymond Lesmana.

Di tahun 2007. Sail Indonesia harus berurusan dengan regulasi bea dan cukai, terkait masalahcustom bond (penjaminan ekspor/impor). Akhirnya, yayasan yang selama ini bergerak sendiri atas nama Sail Indonesia, sekarang harus bekerjasama dengan pemerintah dan mengikuti prosedur kepabean untuk mendapatkan tanda tangan eselon 1 sebagai penjamin.

Destinasi-destinasi yang sudah terbentuk pada Sail Indonesia, antara lain, Kupang, Alor, Lembata, Maumere, Ende, Riung, Lab Bajo, Rote, Sabu, Sumba Barat, Sumba Tengah, Bima, Lombok Utara, Bali Selatan, Bali utara-Buleleng, Karimun Jawa, Banjarmasin. Kumai, Belitung dan Batam.

Jalur estern pass, yakni Saumlaki, Debut- Maluku Tenggara, Banda, Ambon, Wakatobi, Bau Bau, Makassar dan kemudian menyatu ke Flores mengikuti jalur Western Pass. Sedangkan di atas Khatulitiwa dicanangkan jalur kapal layar, Tarakan - Bulungan, Tana Tidung, Berau, Sitaro, Bitung, Jailoto. Ternate. Tidore, Baoan, Obi, Gebe, Raja Ampat, Biak dan Exit di Jayapura. Rencananya, di Sail Indonesia mendatang akan diikuti 150 kapal layar dari 30 negera. Perhelatan itu mulai digelar pada 23 Juli 2011.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More